Bukit Pengampunan
oleh rahmats, 13 Februari 2013

Oleh Firdaus

Bukit indah yang saling berhadapan menjulang tinggi ke langit biru, dan sawah-sawah hijau berjejer rapi memagari jalan aspal yang berlubang. Di sebelah kiri dan kanannya,  terjajalah beraneka rupa jenis buah-buahan yang dijual oleh penduduk kampung sekitar. Sayup-sayup hembusan angin terasa begitu lembut menyentuh kulitku. Sinar mentari hanya samar-samar saja terlihat menyelinap dari sela-sela batang pohon-pohon bambu. Kulemparkan mataku jauh ke hamparan sawah yang dipayungi oleh hiasan alam tersebut, kudapati kekuasaan Allah yang tiada tara di bukit yang konon katanya sangat bersejarah ini.

Sepeda motorku melaju pelan, dan terus membawaku ke sebuah kampus tua yang telah lemah denyut nadinya setelah ditinggal pergi oleh sang perintisnya dulu. Alam indahnya, bukit berbaris pencakar langit, tanahnya yang berkelok-kelok layaknya lukisan abstrak yang memiliki nilai filosofis yang dalam, dan gedung-gedung berbagai macam arsitektur, seolah-olah juga telah ikut koma tak berdaya. Ia luput dari perhatian mereka yang berkuasa, terlupakan oleh mereka yang buta akan ‘balas jasa’, dan juga tak bisa tertolong oleh laju waktu yang terus bergulir cepat. Di depan gapura yang telah hilang maknanya, di atas jalan aspal yang menanjak, terlihat sebuah gedung yang kegagahannya telah terbakar api kenaifan dalam memandang nilai pendidikan.

Aku pun melawati warung-warung kecil yang beratapkan daun rumbia. Di sana, rujak dan air tebu merupakan jajanan khas yang menjadi andalan beberapa warga kampung yang mencoba mencari nafkah dengan berjualan di kantin-kantin di sekitar kampus. Tepat di pintu masuk areal induk kampus, pohon-pohon sawit membentuk barisan, mengapit setiap jengkal jalan menuju ruang-ruang tua yang dijadikan tempat menuntut ilmu.

***

“Anak Muda, bagaimana engkau hendak menjadi tempat tumpuan bangsa jika mengatur waktu saja kau tak bisa,” ucap seorang lelaki tua sesampainya aku di depan ruang kuliah. Nada bicaranya begitu datar namun penuh makna. Sorot matanya seolah-olah ingin mengutukiku yang selalu terlambat masuk kuliah. Sebenarnya kupingku telah terbiasa mendengar ocehannya saban hari, akan tetapi kata-kata bijak si lelaki tua tadi yang selalu saja mencoba menguruiku acap kali membuat hatiku meradang seketika. Lelaki tua tersebut hanyalah seorang penjaga gedung serbaguna di kampus. Setiap kali aku berpas-pasan dengannya pastilah ada saja yang dikritiknya dan dijadikan bahan untuk diperdebatkan.

“Bang Ramli, aku ini tak punya niat sedikitpun untuk menjadi apa yang telah kau sebutkan tadi!” sahutku singkat yang tak ingin memperpanjang obrolan kami. “Siapa pula yang hendak menjadi pahlawan kesiangan di zaman edan seperti ini,” tambahku lagi seraya bergegas menuju ruang kuliah tanpa menoleh ke arahnya.

Dari jendela yang tak berkaca kulihat Bang Ramli menggenggam sebuah sapu lidi. Di kepalanya terselip sebuah kopiah lusuh bersulam rencong yang bersilang. Baju kaos pudar yang kerahnya telah melorot, cukuplah untuk membuatku menyesal akan kalimat yang telah kuacapkan padanya tadi. Aku merasa bersalah karena telah mencemoohkan nasehatnya. Bang Ramli yang mungkin sudah berumur 65 tahun hanya bertemankan sekumpulan sapi milik warga kampung sekitar yang dilepas begitu saja di pekarangan kampusku. Sangat jarang ada orang yang mau mendengarkan perkataannya yang kadang-kadang dianggap sedikit senewen itu, kecuali hanya beberapa dosen-dosen senior saja yang pernah kulihat duduk minum kopi sambil bercengkrama dengannya.

Untuk menebus rasa bersalahku pada Bang Ramli, se-usai kuliahku, aku pun berniat untuk mengajaknya bicara sepatah dua patah kata.

“Bang Ramli, mau rokok?” aku mencoba mengakrabkan suasana dengan menawarinya sebatang rokok kretek.

Ia pun menyambar rokok pemberianku perlahan, wajahnya yang sudah keriput seolah ingin menceritakan sesuatu hal yang sangat penting padaku. Bang Ramli menyalakan rokoknya sambil berteduh di bawah pohon cemara yang rindang. Ia menarik rokok tersebut dalam-dalam seraya berseru, “Seandainya ia masih ada, tak mungkin nasib kampus ini seperti sekarang!”

“Siapa lelaki itu ?” tanyaku seadanya saja.

“Pak Nurdin,” jawabnya dengan suara yang bergetar. Dan, asap rokok menggumpal menutupi wajahnya.

“Ia pemimpin yang hebat, merakyat, rendah hati dan punya ide-ide yang cemerlang,” tambahnya lagi dengan mimik wajah yang serius.

Aku masih saja tak tertarik mendengar ceritanya. Susah memang jika seorang tukang sapu bisa membuatku percaya akan dongengan yang kuanggap tak terlalu penting. Lagi pula, jika yang disebutnya adalah Pak Nurdin, rektor pertama di kampusku, tidaklah lagi menjadi sebuah cerita yang mencengangkanku, karena aku telah tahu sedikit banyaknya tentang catatan kehidupan beliau.

***

Langit yang sedari tadinya sudah gelap, mulai memuncratkan rintik-rintik hujan. Semula ia hanya turun pelan saja, namun tak lama kemudian mulai semakin deras, sehingga aku pun tak punya pilihan untuk tidak mendengar cerita Bang Ramli. Aku dan lelaki tua itu melangkahkan kaki ke teras gedung serba guna. Dan Bang Ramli yang tak bosan-bosannya mendogeng mencoba untuk menarik perhatianku  dengan kisah-kisah lama di tanah ini.

“Siapa namamu, Anak Muda,” tanya Bang Ramli seraya menatapku dengan sorot mata tajamnnya.

“Fikar,” jawabku singkat. Lelaki tua yang akrab dipanggil Bang Ramli itu bukan sekali-dua kali menanyai namaku, dan kami pun sebenarnya sering bertatap muka di kampus, namun entah mengapa setiap kali aku berjumpa dan bercakap-cakap dengannya, ia selalu menanyai namaku.

“Bukit ini menyimpan banyak cerita yang terabaikan. Kau tahu, tanah ini pernah dijadikan pangkalan militer Belanda dibawah komando Jendral Van Heutz. Dan di tanah ini pulalah Tengku Daod Beureueh dan para anak buahnya bertemu Soekarno untuk menghentikan pertikaian antara DI/TII dengan militer Republik Indonesia. Kemudian Pak Nurdin menamai bukit ini dengan nama Jabal Ghafur yang bermakna: “bukit pengampunan”. Lihatlah bangunan-bangunan di sekelilingmu, Fikar,” ujar Bang Ramli dengan semangat ber-api-api sambil menujuk ke arah bangunan-bangunan yang ada di hadapan kami.

“Jangan kira mereka tak punya makna. Itu, gedung Lapan Sagoë di sebelah kirimu punya arti yang dalam. Gedung itu melambangkan kearifan yang mana ada delapan segi pencuru angin. Artinya, Jabal Ghafur menerima seluruh mahasiswa yang berasal dari penjuru mana pun tanpa memandang suku dan ras. Kaya maupun papa tiada beda di matanya.”

“Tunggu dulu Bang Ramli, aku bingung... maksudku lantas mengapa Jabal Ghafur bisa berubah 180 derajat sekarang, jika memang ceritamu itu benar?” tanyaku penasaran. Aku mulai terangsang untuk mendengar kisah kampusku dari Bang Ramli. Tapi, Bang Ramli tak mengindahkan pertanyaanku, ia justru bercerita lagi, “Gedung itu di sana, namanya gedung Tengku Chik Di Reube. Nama ulama dan juga ahli pertanian itu diabadikan oleh Pak Nurdin bukan asal saja, Fikar. Kau pahami sendirilah!” ujar Bang Ramli sambil menunjuk ke arah gedung Fakultas Pertanian.

“Begitu juga dengan gedung Tengku Chik di Pasi, semua bangunan di sini bertumpu pada pada nilai-nilai ke-Aceh-an dengan semangat ke-Islam-an,” imbuhnya lagi.

Bunyi rintik hujan yang jatuh ke atap gedung serbaguna berdegung kencang. Hatiku mulai tergerak untuk mendengar cerita Bang Ramli. Ia yang selama ini selalu kupandang sebelah mata, mungkin satu-satunya manusia yang tahu benar sejarah kampusku ini. Iya, memang lelaki itu hanyalah tukang sapu, namun sepertinya ia bukan sembarang orang. Sering kudapati Bang Ramli membaca koran yang tergeletak di biro admistrasi. Kadang pula ia berdiskusi dengan beberapa dosen walau tak pernah aku tahu apa yang mereka bicarakan di kantin, dan sering pula ia membaca buku-buku tua di teras perpustakaan setelah tugasnya selesai ia kerjakan.

***

Tiba-tiba Bang Ramli memecah lamunanku, “Gedung Leguna di tempat kita sedang berdiri sekarang adalah sumbangan dari seorang pengusaha tioanghoa yang kaya raya. Ah, aku lupa namanya. Semua gedung-gedung di sini dinamakan dalam bahasa Aceh, seperti: gedung-gedung yang telah aku sebutkan tadi, dan gedung Tjut Nyak Dien, dan Rumoh Aceh yang berdiri kaku di sana adalah sebuah museum dulu. Di depan sana, di pintu gerbang masuk, ada dua meriam. Di belakang, ada pula sebuah bangunan bersegi lima, beratapkan daun rumbia, dan terbuat dari pokok kelapa yang dijadikan tempat bermusyawarah. Nama bangunan itu adalah Bak U. Ya... karena bangunan itu sepenuhnya terbuat dari pokok kelapa....”

“Lantas, bangunan-bangunan dan tanah ini, darimana biayanya?” tanyaku pada Bang Ramli yang belum selesai menceritakan tentang sebuah bangunan yang sekarang telah tiada lagi. “Bak U, aneh nama itu, tapi maknanya pastilah sangat dalam,” besitku dalam hati.

Sembari menggerutkan kening dan mengusap-usap dadanya, Bang Ramli menjawab pertanyaanku, “Tanah ini adalah hibah masyarat sekitar, namun ada pula sebagian yang di ganti dengan uang. Sejumlah pengusaha Aceh yang sukses di luar ikut menyumbang untuk pembangunan kampus ini. Mereka adalah Ibrahim Risyad, Bustanil Arifin, Abdul Gafur, A.R. Ramly, dan ada beberapa lagi tokoh besar yang aku telah lupa namanya.”

Ada kekecewaan yang tersirat dari raut wajah Bang Ramli yang kaku. Ia seolah menjadi orang yang paling kecewa saat melihat kondisi kampusku akhir-akhir ini.

“Pernah  diadakan Pertemuan Sastrawan Indonesia-Malaysia-Singapura. Sejumlah sastrawan ternama seperti: Mochtar Lubis, Arifin C Noer, Taufiq Ismail, Sutardji Calzoum Bachri, LK. Ara, Ibrahim Alfian, dan Ali Hasymi turut menghadiri acara itu,” Bang Ramli meneruskan ceritanya.

“Kapan acara itu diselenggarakan, Bang Ramli? tanyaku dengan nada suara yang bergetar karena terkagum-kagum pada kisah kampusku sendiri. Walaupun aku tak kenal para sastrawan yang telah disebutkannya, tapi aku yakin acara tersebut bukan sembarang acara, dan nama-nama itu juga bukan nama sembarang orang.

“Tak perlu kaget seperti itu, Fikar. Masih banyak lagi cerita yang masih belum kuceritakan, dan mengenai pertanyaanmu tadi, aku sudah lupa-lupa ingat kapan acara pertemuan sastrawan itu diselenggarakan. Jika tidak salah pada tahun 1986 atau 1987.”

***

Hujan yang tadinya deras pun mulai tak berbising lagi, pertanda bahwa ia akan segera reda. Perbincanganku dengan Bang Ramli, si tukang sapu di kampusku, telah membuka mataku lebar-lebar dalam memandang citra kampusku sendiri. Walau telingaku sebenarnya telah terbiasa mendengar nama sosok Pak Nurdin dan kejayaan “bukit pengampunan” ini pada era 80 sampai dengan 90-an, namun cerita yang kudapati dari Bang Ramli adalah yang paling rinci dari semua informasi yang aku dengar selama ini.

***

Pelangi nun jauh di langit mulai melengkung di antara gumpalan awan yang seakan menukikkan diri untuk membenarkan apa yang telah di katakan oleh Bang Ramli padaku. Aku dan Bang Ramli berjalan menelusuri jalan setapak untuk meninggalkan gedung serba guna tempat kami berbincang sedari tadi kala tempat sekitar sedang diguyur hujan.

Gedeu-gedeu[1] dan rapa’i geleng sering dipentaskan di sini, Fikar. Dan ada macam-macam pertunjukan lain lagi yang aku juga sudah tak seberapa ingat lagi namanya. Pertunjukan-pertunjukan tersebut kadang kala dipentaskan untuk menyambut para menteri  dari Jakarta yang berkunjung ke sini. Terakhir sebelum kampus ini dibakar oleh orang tak dikenal, Musabaqah Tilawatil Qur’an tingkat internasional pernah membuat sepanjang jalan ini macet hingga tengah malam, karena membludaknya pengunjung,” kata Bang Ramli padaku saat kami melewati jalan dua jalur yang di kelilingi tiang-tiang lampu yang tak lagi bernyawa.

Aku hanya terperangah mendengar ucapan Bang Ramli. Aku tahu bahwa sampai dengan detik ini pun, Jabal Ghafur yang sudah sengkoyongan ini, masih mendapat tempat di hati masyarakat. Saban hari, bukit ini selalu di datangi oleh para pengunjung yang ingin menikmati keindahan alam dan mencicipi rujak serta air tebu yang khas. Dan para tunas bangsa pun masih berdatangan dari berbagai penjuru wilayah untuk menimba ilmu di sini.

***

 Kami pun harus berpisah sore itu. Bang Ramli melangkahkan kakinya pulang ke rumah--yang aku pun tak tahu di mana letaknya. Terlihat olehku badannya yang telah bungkuk itu perlahan menghilang dari pandanganku. Ia lenyap, jauh menelusuri jalan-jalan terjal yang naik-turun.

[1] salah satu seni bela diri tradisional rakyat Pidie. Seni bela diri ini seperti gulat yang dimainkan oleh kaum laki-laki

Biodata Penulis

Nama                       : Firdaus

Tempat/ Tgl. Lahir    : Sigli 25 April 1990

Alamat                     : Jl. Perintis No. 9 Gampong Blang Paseh, Kec. Kota Sigli, Kab. Pidie  Prov. Aceh

Kode Pos                  : 24118

Pekerjaan                : Mahasiswa (Jurusan Pendidikan Bahasa Inggris Universitas Jabal Ghafur Gle Gapui-Sigli)

E-Mail/FB/Twitter     : m.yususf_umar60@yahoo.com/Dauz Yusuf/ @DauzYusuf

No. HP                     : 085370136430

KARYA-KARYA YANG PERNAH DIPUBLIKASIKAN :

Antologi cerpen:

Cinta Si Abua Amat (FAM Publishing, 2012)

Tiga Pilihan yang diajukan oleh Waktu (Plotpoint, 2012)

Cerpen di media:

Anakku Tersayang Hilang dari Pandangan (www.berdikarionline.com, 10/1/2013)

Rumah Kenangan yang Tak berpenghuni (http://atjehlink.com, 2/2/2013)

Artikel/ Opini:

Menoleh ke Spion Sejarah (theglobejournal.com, 3/1/2013)

Feature (Pewarta Berita) :

Distribusi Pangan untuk Korban Gempa Mane Tak Merata (theglobejournal.com, 25/1/2013)

Nasib Pedagang Sekitar Rumah Sakit Umum Sigli (theglobejournal.com, 14/1/2013)

Prestasi Menulis :

30 terbaik kompetisi essai mahasiswa: “Menjadi Indonesia 2012” yang diselenggarakan oleh Tempo Institute.

Bagi anda yang mempunyai tulisan, artikel bisa dikirim ke email okifirdaus@unigha.ac.id tulisan anda akan kami seleksi terlebih dahulu sebelum di publikasikan di web ini

Share this :