DIBALIK SEBUAH ARTI NADA DIHIDUPKU
oleh rahmats, 29 November 2012

(Karya Maulidin Akbar/ Mahasiswa FIA UNIGHA)

Pagi yang cerah, terdengar kicauan burung yang indah dengan alunan melodinya yang khas, seakan hidupku hari ini lebih bermakna,  saat aku terbangun dari terlelapnya tidurku dari bunga mimpiku yang indah,  aku melihat sesosok bayangan muda yang cantik dan berkerudung, dia sedang membangunkanku, dia adalah ibu panti asuhan yang merawatku selama ini, kulihat wajahnya yang cantik dan senyumnya yang manis bahwa bertanda malam telah berganti pagi, disini aku dididik dengan  penuh kasih sayang,  sejak kelahiran umurku 3 hari aku sudah dirawat di panti ini dengan penuh kasih sayang dan juga mengajariku apa itu arti beryukur dalam kehidupan yang sebenarnya, walaupun nasibku tidak seberuntung seperti orang lain. Namaku Nada, sejak kecil kelahiranku tidak direstui, bunda rela menitipkanku di panti asuhan ini dengan menuliskan nama ditanganku “NADA” ya inilah namaku, namaku yang terdengar indah, tetapi tidak seindah perjalanan hidupku, nama pemberian dari ibu kandungku, umurku 15 tahun, walaupun sampai saat ini aku tidak mengenal bagaimana sosok bundaku yang sebenarnya, tetapi walaupun begitu aku masih tetap ceria dan gembira bersama-sama dengan teman-temanku disini, dan mereka juga senasib denganku.

Disini aku mempunyai teman yang banyak, hari-hariku indah dengan candaan temanku yang mampu membuatku tersenyum lebar, seakan hidupku penuh dengan kebahagiaan walaupun hanya satu kebahagiaan yang belum aku dapatkan selama ini, yaitu bertemu dengan BUNDA, sampai saat ini mimpiku untuk bertemu dengan bunda belum kudapatkan.

Pagi itu aku sedang membantu Ummi Ra didapur, sebenarnya namanya Ratih, tetapi aku memanggilnya Ummi Ra, ketika itu aku lagi asyik menggoreng tempe, dan sekalian sambil belajar memasak dengan Ummi, tiba-tiba Ibu panti pun memanggilku..

“Nada..Nadaa...kesini Nak..” panggil Ibu pantiku

“iyaa Buu..” jawabku

Ketika hendak saat aku ingin menemui Ibu pantiku, aku melihat seorang Ibu dan Bapak yang sedang duduk bersama Ibu pantiku, mereka tersenyum melihatku, dan akupun langsung menghampiri mereka.

“ada apa Bu?” tanyaku penasaran

“duduk dulu sayang Ibu akan memberikan kabar gembira kepadamu Nak?” jawab Ibu

“apa kabar gembiranya Bu?” tanyaku tambah penasaran

“ini Nak, Ibu dan Bapak ini ingin sekali mengadopsi kamu, mereka tertarik melihatmu karena kamu anak yang cantik, juga baik” jawab ibu

“apa Bu?yang benar Bu?tapi.. nanti Nada tetap tinggal disini juga Bu kan?” tanyaku

“kamu tidak tinggal disini lagi sayang, Nada ikut bersama Ibu dan Bapak ini bersama-sama, dan Nada akan tinggal bersama mereka” jawab Ibu

“tapi Nada tidak mau Bu..Nada masih ingin disini dan bermain bersama dengan teman-teman Nada yang lain Bu..?” jawabku sedih

“tapi kamu masih mempunyai masa depan Nak, dengan Nada tinggal bersama- sama dengan Ibu dan Bapak ini, Nada bisa bersekolah dan juga mewujudkan mimpi Nada dan cita-cita Nada dengan bersekolah yang rajin, percaya Ibu nak, Ibu yakin pasti Nada menjadi anak yang berhasil suatu saat nanti” jawab ibu

Dan akupun mengangguk menerima keputusan itu, hari itu juga aku telah meninggalkan teman-temanku dan juga Panti Asuhan yang merawatku dari kecil sampai aku remaja sekarang ini, hari itu terasa hari yang paling duka bagiku, aku tidak sanggup berpisah dengan teman-temanku dan juga Ummi Ra yang selalu mengajariku memasak, seketika barang-barangku telah beres disiapkan oleh Ibu panti dan segera dimasukkan kedalam mobil orang tua angkatku, dan akupun siap pergi walaupun langkah ini berat dan air mata ini terus mengalir seakan aku tidak sanggup melepaskan semua orang-orang yang aku sayangi.

Hidupku kini seperti Nada tinggi yang naik satu volume, kini hidupku terasa telah tercukupi, semua permintaanku dikabulkan oleh orang tua angkatku, hidupku saat ini semuanya tercukupi, sampai aku meminta membelikan mobil baru, orang tua angkatku mau membelinya, mereka sangat sayang kepadaku.

2 tahun sudah aku tinggal  bersama mereka, kini umurku 17 tahun, kasih sayang dan materi semuanya telah kudapatkan, mereka terlalu sayang kepadaku dan memberikan kepercayaan lebih untukku, mereka telah menganggapku seperti anak mereka sendiri, tetapi ketika masa itu aku malah memanfaatkan kepercayaan mereka untukku, aku terpengaruh oleh teman-teman SMA ku, aku salah bergaul, tingkahku mulai merajalela, aku tidak takut lagi akan teguran orang tua angkatku atas tingkah nakalku, waktu itu aku sering pulang malam, dan dalam keadaan mabuk, prestasi disekolahku pun menurun, sampai aku mendapat surat dari sekolah karena nilaiku yang drastis menurun, Nada sekarang tidak sama lagi seperti Nada yang dulu, Nada sekarang menjadi Nada pembantah dan nakal.

Pada suatu saat orang tua angkatku menyita semua barangku, handphone, uang, sampai mobilku pun disita akibat kenakalanku, tetapi bagiku itu tidak masalah, malah aku menyuruh temanku untuk menjemputku, tetapi semua itu tidak berlangsung lama , ketika itu aku memang sangat membutuhkan uang untuk membelikan baju baru biar aku gak kalah trend dengan teman-temanku, tetapi temanku malah memanfaatkan kesempatan itu ..

Ketika saat itu aku ingin meminjamkan uang kepada Tasya temanku

“eh, gue pinjem duit dong?”

“buat apa emang loe duit?” tanya tasya

“gue mau beli baju nih, lihat tu bagus banget bajunya” jawabku

“em, emang  sampe sekarang ini nyokap bokap loe belum juga kasih uang buat loe apa?” tanya Tasya

“belom ni resek nyokap bokap gue sebulan duit buat gue ga dikasih lagi, eh  pinjem ya please gue janji deh nanti kok gue udah punya duit pasti gue bayar, pinjem ya please???” jawabku sambil memohon-mohon.

“emm boleh sih  tapi ada syaratnya ya?”

“apa? pasti gue turutin?” jawabku penasaran

“emm, mudah aja, loe boleh pinjem duit gue 1 juta tapi loe harus ngambil barang gue?”

“barang apa emangnya?”tanyaku

“ni Narkoba loe harus pake ini kalau gak gue sama temen-temen laen gak akan jemput loe lagi, berteman sama loe,  juga pinjemin uang buat loe, dan duit yang selama ini loe pinjam, harus loe bayar sekarang ,gimana setuju gak?” jawab tasya

Tak ada cara lain akupun  mengangguk, dan menyetujui permintaan mereka walaupun itu agak sedikit berat untukku menerima tawaran mereka, hari itu juga Tasya meminjamkanku uang, dan dia memberi barang itu, aku tau itu barang haram, tetapi harus gimana lagi, aku harus menerimanya, saat itu ketika pertama aku mencoba barang haram tersebut, aku mulai ketagihan ingin memakainya lagi dan lagi, ingin aku menjauh dari barang tersebut tetapi seolah aku ingin mati tanpa ada barang haram itu, kini Nada sekarang menjadi Nada pecandu Narkoba, sekarang berbagai cara kulakukan untuk mendapatkan sedikit narkoba, sampai aku mencuri uang Ibu angkatku, juga sampai barang berhargaku kujual sampai habis, kini sekarang hidupku terasa gelap tanpa narkoba, hidupku sekarang sudah bergantung kepada narkoba, aku tidak bisa lagi menghindar dari barang haram tersebut, aku yang dulu polos dan gak tau apa-apa, kini sekarang aku tersulap menjadi gadis pecandu narkoba dan gadis yang nakal, sampai saat itu kebebasan bergaulku tidak ada batas lagi, karena orang tua angkatku sudah tidak sanggup lagi menjagaku dan memperhatikanku. Pada suatu saat akupun hamil diluar nikah, itu semua akibat kenakalan dan pergaulanku yang bebas, hidupku semakin hancur, masa depanku suram sudah tidak ada tujuan lagi, pada saat itu aku sedang mabuk, tetapi pada saat itu pacarku Rio dia memanfaatkan keadaaan itu, sampai akhirnya akupun hamil, waktu itu aku datang kerumahnya untuk mempertanggung jawabkan perbuatannya, tapi dengan hati kecewa bahwa ketika saat kerumahnya kulihat rangkaian bunga duka sudah ada dirumahnya, kulihat dia tertidur tak bernyawa lagi dan Ibu Bapaknya menangis sedih kepergiannya, Rio meninggal karena kecelakaaan yang Naas tangan kakinya putus, pada saat itu aku tidak tau harus kubawa kemana nasibku, sekarang aku bunting dan gak tau  aku harus bagaimana jujur dengan orang tua angkatku, sekarang hidupku hancur berantakan gak ada guna lagi aku hidup, aku gak tau harus kemana membawa nasibku, kadang aku tersadar dengan tingkahku dulu, tingkah yang membuat masa remajaku hancur, bahkan aku sekarang tidak mau lagi sekolah, karena perutku yang semakin hari semakin buncit.

Pada suatu saat kehamilankupun diketahui oleh orang tua angkatku, saat itu aku diusir dari rumah, mulai saat itu aku tidak lagi diterima dirumah itu,  aku tidak mempunyai pilihan  lain, niatku  ingin mengaborsi kehamilanku, kemana saja kupergi, sampai kedukun beranak pun aku pergi, sampai didukun beranak aku diberi minuman herbal dengan harga lumayan murah, waktu itu aku tidak punya tempat tinggal lagi, aku tidur dikolom jembatan dengan membawa nasibku yang gelap, saat itu ku coba membuat teh ramuan dukun beranak tersebut, aku meminumnya lebih dari dosis yang dikatakan dukun itu, saat itu tubuhku mulai berkeringat, juga kejang-kejang, pendarahanpun tidak bisa dihentikan, dan juga keguguranpun terjadi, pada saat itu aku tertidur lemas dengan bajuku dilumuri darah, saat itu tak ada satupun yang memperdulikanku, nada-nada hidupku yang suram dan tak ada arti kulalui bersama hati dan perasaan kekecewaan atas tingkahku sendiri, kini aku menjadi gembel jalanan, derita nasibku yang pedih, juga penderitaan meratapi hidup dibawah kolom jembatan, nada-nada hidupku sekarang semakin menurun dan tak ada tujuan, tetapi walaupun begitu aku tetap juga belum bisa terlepas dari Narkoba, aku masih pecandu narkoba, hidupku tidak bisa jauh dari narkoba, sampai hari itu aku hampir mati karena tidak ada narkoba, lalu akupun memilih cara untuk mencopet, tetapi naasnya aku pun ditangkap warga dan aku dibawa kekantor polisi, hidupku sekarang semakin hancur dan hancur, Nada sekarang menjadi Narapidana, dengan kasusku yang sangat berat, pertama mencopet, kedua narkoba, hidupku ya beginilah hidupku, tetapi karena umurku 17 tahun, aku masih dibawah umur, pada waktu itu aku dibawa ketempat rehabilitasi, disitu aku mendapatan ilmu yang banyak, disitu aku diajarkan ilmu agama, juga kreativitas yang tidak membuatku bosan, disitu juga aku bisa dapat berkarya, kebetulan aku suka sekali menyanyi, kutunjukkan bakatku kepada teman-teman satu rehabilitas denganku, kubuat karya-karya baruku, kutampilkan kepada mereka, kubuat suasana terhibur, semenjak saat itu, hidupkupun sangat berarti, aku bahagia tinggal ditempat rehabilitasi, sikapkupun sudah terbalik 180 derjat dari sikapku dulu, sekarang hidupku terasa lebih bermakna, dengan karya-karya lagu baruku yang baru, yang bisa membuat orang terhibur karnaku, dan aku sangat senang dan bahagia, karena aku bisa membuat orang tersenyum karenaku dan itu labih dari cukup untukku.

Seperti biasa kubangun dari tidurku, kuhirup udara segar seakan kehidupan menyambutku dengan lembut, terasa hidupku semakin hari semakin bermakna dan berarti kulalui, kujalani kehidupan rehabilitasku seperti biasa, sekarang Nada saat ini bukanlah lagi Nada pecandu narkoba dan juga Nada yang nakal, sekarang aku 100 persen bisa jauh dari narkoba, sekarang aku tersadar narkoba adalah akibat pertama penghancur masa depanku, dan aku tidak ingin mengulanginya kedua kali, cukup masa lalu yang membuatku sebuah cambuk yang paling sakit dan memberi pelajaran untuk masa depanku sekarang, tanpa kusadari masa direhabilitasikupun habis, kini sekarang aku sudah bebas, tetapi hatiku terasa berat keluar dari rehabilitasi, aku harus meninggalkan teman-tamanku yang selama ini mendukungku, dan memberi semangat untuk menciptakan suatu karya, disana juga telah mengajariku apa itu arti sebuah kehidupan yang nyata, dengan hati dan perasaan sedih menyelimutiku, kugerakkan langkahku sambil air mataku berlinang, dalam hatiku mengatakan selamat tinggal sahabat hidupku.

Kini aku telah terbebas dari panti rehabilitas, tetapi sekarang aku tidak tau harus kemana dan memperjuangkan nasibku yang sekarang tidak sesuram lagi seperti dulu, kuberjalan selangkah demi selangkah kugerakkan kakiku sambil memikirkan kemana sekarang harus ku pergi, mau kerumah orang tua angkatku, tidak mungkin lagi aku masih diterima, kini aku menjadi pengamen jalanan, bukan lagi gembel jalanan seperti dulu, tak kusadari hujan pun membasahiku, lalu aku berhenti sejenak disebuah halte, aku duduk terdiam sambil memegang gitar kecilku, ku renungi kehidupanku yang dulu dengan sekarang, dan aku tidak bisa membayanginya betapa hancur hidupku dulu dengan hidupku sekarang, kini volume nada hidupku seakan naik drastis, hidupku sekarang diikuti dengan nada-nada alunan melodiku yang bisa membuat orang lain terhibur karenaku, sejenak kutersenyum dengan nasibku, pahit manis kurasakan sendiri sampai kejamnya hidup menghampiriku, kulantunkan semua isi hatiku dan cerita hidupku semua kedalam lantunan alur nada-nada melodiku, dengan modal gitar kecilku, ku menyanyi dengan karya nada-nadaku yang baru sambil merasakan dingin hujan yang menusuk tulangku, tetapi aku masih tetap tersenyum, tanpa kusadari disudut halte ada seorang laki-laki yang duduk dari tadi mendengarkan laguku, dia tersenyum melihatku dan dia berjalan kearahku, lalu kuterdiam sejenak apa maksud Bapak itu datang kearahku, lalu tanpa kusangka dia memberikan tepukan tangan dengan air matanya mengalir sedih, aku heran kenapa Bapak itu sedih denganku, lalu dia mengatakan kepadaku bahwa laguku sangat bagus dengan kata-katanya yang indah,  juga nada melodinya dapat membuat pendengar bersedih seolah orang yang mendengar dapat merasakan penderitaan seorang pencipta lagu, sekejap aku bangga dengan karyaku selama ini kubuat dengan pengalaman hidupku yang suram menciptakan hasil yang bisa membuatku tersenyum, lalu Bapak itupun mengajakku untuk  mengembangkan bakatku untuk menyanyi, dia mengajakku menjadi seorang penyanyi terkenal, dan dia mau jadi sutradaraku, dengan sekejap hidupkupun berubah, nada-nada volume hidupku kini naik drastis,  kini sekarang aku menjadi artis penyanyi papan atas, dengan sedikit suaraku yang lumayan bagus, dengan semangat ku ciptakan karya-karya lagu baruku, kini aku bisa menghasilkan banyak uang, dan dengan uang tersebut aku bisa membuat satu panti asuhan, dan satu lagi panti rehabilitasi yang selama ini telah mengajariku arti kehidupan, dan dipanti itu aku ingin membuat anak-anak yang senasib dengan hidupku  akhirnya dapat mengetahui  kehidupan yang bermakna, seperti kehidupanku dulu pertama dari panti asuhan sampai akhirnya dipanti rehabilitasi, dan sekarang aku menjadi orang yang sukses, inilah nasibku dan inilah aku “NADA”, namaku dengan nasibku berjalan  seiring rendah tingginya nada hidupku.

Bagi anda yang mempunyai tulisan, artikel bisa dikirim ke email okifirdaus@unigha.ac.id tulisan anda akan kami seleksi terlebih dahulu sebelum di publikasikan di web ini

Share this :