Dibalik Lilin Kelabu
oleh rahmats, 29 November 2012

Oleh Maulidin Akbar

Setiap menjelang ramadhan, Dayah Ummul Ayman, salah satu Yayasan Pendidikan Islam di Samalanga Kabupaten Bireun Provinsi Aceh selalu mengadakan beraneka lomba keagamaan untuk para santrinya. Lomba yang bertujuan meningkatkan pemahaman beragama santri ini selalu disambut meriah oleh para penghuni dayah tersebut. Tidak terkecuali dua sahabat akrab Husni dan Akbar.

Saat itu sore telah menunjukkan senjanya, dua sahabat sejoli yang baru selesai dari kelas turun bersama dari lantai dua menuju bilik masing-masing untuk bersiap mandi dan makan malam menjelang naik mushola untuk menunaikan ibadah sholat magrib berjamaah yang memang diwajibkan bagi seluruh santri didayah yang menampung para yatim, yatim piatu dan fakir miskin tersebut.

Saat sedang keluar dari biliknya tiba-tiba Akbar dikagetkan oleh sahabatnya Husni,

"doaaarrrr…hahaha kaget kan?"teriak Husni dibalik pintu bilik

"hassshhh,,parah kamu suni, ngagetin orang saja" balas Akbar dengan menepuk nepuk dadanya.

"ayo kita kesungai, udah mau magrib neh" sambung Husni sambil trus ngloyor pergi.

Akbar pun mengikuti husni dengan menjinjing ember sabunnya menuju sungai di pinggir dayah. Sungai bate iliek, begitu lah sebutannya sebuah sungai yang banyak dikunjungi oleh para wisatawan setempat untuk sekedar duduk dipinggirnya dengan dinikmati minuman ringan di sekitar warung terdekat, sungai yang indah dengan bebatuan yang besar, ntah darimana datangnya, sambil duduk di pinggir sungai akbar sesekali memandang ke dalam air terngiang sang bunda yang sendiri di desa, mencari nafkah dengan bertani sepetak sawah warisan dari almarhumah nenek dulu. Tak ada yang bisa dilakukannya selain hanya mengingat pesan sang bunda "belajarlah dengan sungguh-sungguh!!kami berharap banyak darimu, semoga kau menjadi apa yang kau cita-citakan" bisik sang bunda saat melepasnya untuk masuk ke dayah. Akhirnya senja pun semakin gelap pertanda azan magrib segera berkumandang dan Akbar pun sadar untuk bergegas mandi dan segera naik mushola.

Allahu Akbar, Allahu Akbar…

Allahu Akbar, Allahu Akbar…

Azan pun berkumandang dari mushola, suara yang menghanyutkan jiwa ketika kami mendengarnya. Maka bergegaslah kami untuk naik ke mushola sekedar mencari shaf terdepan.

Setelah membaca surah yasin berjamaah, kami pun segera ke balai masing masing untuk pengajian kitab kuning, saat sedang asik asiknya mengulang kitab tiba-tiba ustad Ibrahim memberikan wejangan perihal lomba yang akan segera dilaksanakan.
"assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh, semua santriku yang berbahagia, sebentar lagi kita akan mengikuti lomba, untuk tahun ini kita ada 7 bidang yang diperlombakan, yaitu baca kitab kuning, kaligrafi, baca puisi, cerdas cermat, hafal alquran 5 juz, tartil alquran dan tilawah alquran" papar ustaz Ibrahim sambil membenarkan kacamatanya yang miring.

"seperti yang ustad paparkan sebelumnya untuk kali ini Husni, Akbar, dan Nadir akan satu regu dalam bidang cerdas cermat, khusus husni juga akan mengikuti lomba kaligrafi sedangkan akbar baca kitab kuning dan puisi" lanjut ustad dengan bijaksana

Tiba-tiba dengan kaget akbar bertanya

"ustad,, apa saya mampu untuk 3 lomba tahun ini?jujur saya merasa kesulitan ustad" curhat akbar pada sang ustad.

Dengan bijak ustad Ibrahim menjawab "nanda akbar, kita sekelas hanya 15 orang, awalnya 20, yang 5 lagi sudah keluar dari dayah, ustad akui ini berat untukmu, tapi ustad yakin dengan kemampuanmu yang semakin berkembang kamu mampu untuk melaksanakan amanah ini" hening sejenak untuk menarik nafas.

"lagian kamu adalah salah satu santri berprestasi dikelas III B kita, yang lain juga kebagian minimal satu perlombaan, tapi ustad tidak memaksa jika kamu merasa tidak sanggup"

"Bagaimana? Apa kamu siap akbar?" Tanya sang ustad pada salah satu murid kesayangannya.

Akbar merasa gundah, selama ini dia hanya mengikuti satu lomba setiap tahun, tapi berbeda dengan kali ini, 3 lomba hanya dengan jangka waktu satu minggu. Ini berat, sungguh berat, dia tidak ingin fokusnya terpecah pada beberapa bidang, karena dia berharap untuk bisa memberikan yang terbaik pada kelas, ustad dan keluarganya di desa. Akhirnya dia menjawab "berikan saya waktu semalam untuk berfikir ustad, saya akan coba ikhtiyar dengan wejangan ustad"

Dengan arif sang ustad berujar "pasti nanda, fikirkanlah baik-baik malam ini! Ustad menunggu jawabanmu besok malam dikelas dan ustad harap akan mendapatkan jawaban yang terbaik" sambil tersenyum ustad menepuk punggung akbar, kebiasaan ustad Ibrahim untuk memotivasi para santrinya.

Akbar pun berjalan lunglai menuju biliknya, sadar sang sahabat sedang gundah husni pun menghampiri.

"Bar, gimana? Apa kamu sanggup?"

"ntahlah suni, aku juga bingung, menurutmu bagaimana?" Tanya akbar penuh harap.

"hmm,, aku akan mengambilnya Bar, ini adalah kepercayaan ustad padamu, jarang-jarang seorang santri ikut tiga lomba jika bukan karena kepercayaan besar padanya" jawab Husni dengan mantap.

"tapiiii… apa aku sanggup?waktu kita hanya tinggal seminggu kawan" balas akbar

"pasti sanggup, mulai malam ini kita akan menambah jadwal belajar dan latihan kita, jika biasanya kita tidur jam 12, mulai malam ini kita tidur jam 2?bagaimana?" jawab husni dengan yakin.

"jam 2?engga salah?kita aja yang tidur jam 12 harus terkantuk-kantuk bangun sholat subuh" geleng akbar dengan gundah

‘tenang, kita bisa berbagi tugas, kalau kamu ngantuk ya tidur aja, nanti kita gantian, kamu tidur aku yang belajar, kamu belajar aku yang tidur, kita saling membangunkan, bagaimana?deal" jawab husni dengan santai.

"ide bagus tuh, deal deh, hahaha" sambil tertawa akbar pun melangkah menuju biliknya untuk membuka kembali kitab yang diajarkan hari ini.

Malam besoknya setelah selesai pengajian ustad akbar memanggil khusus akbar ke bilik ustad untuk membicarakan mengenai lomba yang dijanjikan.

Took tookkk toookkk Akbar mengetuk pintu bilik ustadnya

"assalamualaikum ustad….ini saya akbar"

"waalaikum salam warahmatullahi wabarakatuh nanda, silakan masuk pintunya tidak dikunci" jawab ustad dari dalam

Sambil berjalan pelan pelan akbar duduk bersimpuh dihadapan sang ustad

"Bagaimana akbar?apa kamu sudah ikhtiar?" Tanya ustad sambil meneguk kopi yang dihadapannya.

Dengan mantap akbar menjawab, "Alhamdulillah sudah ustad, dan saya memutuskan menerima permintaan ustad agar saya ikut tiga lomba"

"Alhamdulillah, kamu benar benar siap?" Tanya ustad meyakinkan

"InsyaAllah saya siap ustad" jawab akbar mantap sembari tersenyum

Akhirnya hari yang dinanti pun tiba, dayah ummul ayman menjadi semarak dalam minggu tersebut, seluruh santri pun berjuang untuk menjadi yang terbaik, begitu pun dengan akbar dan teman temannya, penuh optimisme yang tinggi dengan persiapan yang matang dalam bimbingan seorang ustad yang bijaksana seperti ustad Ibrahim.

Dimalam yang ketiga dari perlombaan, Husni sambil membawa bantal dari biliknya langsung merebahan badan disebelah Akbar.

"gimana? Udah siap buat lomba kitab kuning besok?" Tanya husni

"InsyaAllah suni, ini juga lagi dipelajari lagi matan dan surah di bab faraidnya" jawab akbar sambil membuka lembaran lembaran kitabnya

"oh iyaa tolong nanti kamu tiup lilinnya kalo kamu tidur suni, aku mau istirahat duluan, takut besok tidak fit untuk lomba" pinta akbar mengingatkan.

Seperti kebiasaan malam-malam sebelumnya, didayah ummul ayman setiap santri yang ingin begadang untuk belajar diharuskan pakai lilin untuk belajar karena saat itu belum ada lampu belajar, karena jam istirahat seluruh lampu bilik harus dimatikan.

Mungkin karena lelah juga malam itu Husni terlelap, padahal lilin yang digunakan untuk mereka belajar belum dimatikan, dan akhirnya apa yang tidak diharapkan malam itu pun terjadi, dalam lelap tidur para santri tiba tiba Akbar merasa gerah dan kepanasan, entah mengapa akbar merasa ada yang aneh, dia pun mencoba membuka mata dengan menahan kantuk yang sangat, dengan kaget yang luar biasa Akbar melihat api telah menyambar kelambu yang mereka gunakan bersama, api merembet kemana-mana bahkan kitab yang mereka gunakan untuk belajar pun tidak luput dari si jago merah.

Akhirnya akbar berteriak "kebakaraaannnn…kebakaraaaannn….bilik kebakaraaannn"

Husni yang tidur disebelah akbar pun kaget "apiii…apiii…tanganku kebakar…"sambil mengibas ngibaskan api yang menjalar ditangannya.

Santri yang tengah lelap tertidur malam itu pun kaget dan terbangun penuh heran saat melihat api mulai menajalar kemana-kemana disetiap sudut ruangan bilik sempit dikamar tersebut.

Yang lain pun terus berteriak "kebakaraaannn,,,ada kebakaraaannnn…"

"toloooong..tolooong" ketua bilik ustad zamzami pun ikut berteriak setengah mati sambil berusaha mencari air dari sumur yang biasa digunakan santri untuk berwudhu.

Malam yang lengang pun tiba tiba menjadi ramai dibilik no 18 yang mereka gunakan, santri santri dan para ustad bergotong royong memadamkan api.

Akbar yang telihat panik cuma bisa duduk termangu melihat bilik yang biasa dipakai mulai terhempas dalam kobaran sijago merah, akbar menangis, dia bahkan bingung tidak tahu harus berbuat apa disaat teman-temannya sibuk menyiram air serta menyelamatkan barang-barang yang masih bisa diambil seperti kitab, baju, alat makan dan lain lain. Si anak yatim ini hanya bisa pasrah menerima musibah yang terjadi malam itu

Untung dalam waktu kurang dari satu jam api bisa dipadamkan dengan rasa kebersamaan yang kuat diantara santri santri dan ustad yang ada didalam dayah. Setelah api dipadamkan akbar mencoba masuk kedalam biliknya yang masih tegak berdiri, hanya bau gosong dan bekas kayu terbakar yang tersisa dalam bilik, malam yang menyedihkan bagi Akbar. Dicoba kembali mengais kitab kitab yang masih utuh walaupun tulisan dan lembarannya telah banyak yang hangus. Kitab yang seharusnya dipergunakan dalam lomba yang akan dilaksanakan besok pagi. Dia hanya bisa termenung sambil mengusap air mata yang terus jatuh membasahi pipinya.

Ustad Ibrahim yang sadar salah satu santrinya sedang mendapat musibah mendekaat dan mengelus kepala akbar dengan penuh kasih saying.

"Innallaha ma’a shobirin, Allah bersama dengan hamba hambanya yang sabar" bisik ustad ditelinga santri kesayangannya.

"tidak perlu bersedih, kita masih disini bersamamu nanda, ini adalah ujian Allah untuk hamba-hambanya yang beriman, jangan putus asa dan putus semangat, semua akan baik baik saja" tatap ustad penuh rasa sayang pada akbar.

Keesokan harinya, acara perlombaan tetap berlangsung karena kebakaran telah dapat dikondisikan oleh ustad dan para pengurus yayasan.

Tapi teman teman ada yang heran, khususnya Husni.

"dimana akbar? Tanya husni pada nadir

"bukannya 1 jam lagi dia akan tampil untuk lomba baca kitab kuning?

"ga tau, dari tadi aku tidak melihatnya" jawab nadir ikut kebingungan

"yuk kita cari" ajak nadir, yang kemudian dengan bergerak cepat mereka mencari akbar ke bilik bilik lain mana tau sedang bersama teman yang lain.

Disaat yang bersamaan, akbar yang sedang tertimpa musibah duduk menyendiri dipinggir sungai diatas tikar tidurnya yang telah sebagian hangus terbakar. Dia menangis sambil melempar lempar batu ke arah sungai. Dia merasa usahanya selama lebih seminggu untuk perlombaan ini sia sia. Dia meraung sambil memanggil manggil bundanya.

"bundaa…aku mau pulang" pinta akbar dalam isakan tangisnya

Dia terus menangis ketika tiba-tiba 3 sosok yang tidak asing hadir didepannya, yaa mereka adalah Husni, Nadir dan Sang guru ustad Ibrahim.

Dengan penuh cinta kasih sang ustad mengusap air mata akbar

"nanda, semua yang ada didunia ini telah digariskan oleh Allah SWT, tiada satupun bisa luput dari takdir itu, maka bersabarlah, Allah akan mengganti semua ini dengan sesuatu yang indah, percayalah akan kehendaknya" wejang ustad dengan arif

"akbar, maafkan aku, semalam itu salahku, aku yang lupa dengan pesanmu karena kantukku yang tidak mampu kutahan lagi"sambung husni

Dalam isak tangis Akbar berkata "tapi bagaimana aku bisa melanjutkan lomba lagi? Kitabku telah terbakar ustad, kitab yang dengan susah payah bunda belikan saat aku ingin masuk kedayah walaupun beliau harus menjual ayam peliharaan terakhir kami"

"Akbar, apa kamu lupa dengan kisah nabi ayub?bagaimana beliau diberi cobaan hingga tinggal lisan dan lidah beliau yang tinggal tapi tiada henti-hentinya untuk menikmati rasa syukur atas keimanan dari Allah SWT" sambung ustad

Mendengar kisah nabi ayub akbar pun tersentak, dia merasa malu pada dirinya, apa yang dirasakannya saat ini tidaklah sebanding dengan apa yang nabiyullah Ayub rasakan pada masanya.

"maaf ustad, nanda tidak mampu menahan diri, dikarenakan lemahnya Iman nanda"

"ambil kitab ustad, dan ikutlah lomba!!InsyaAllah Allah tidak luput atas kehendaknya"

Sambil memegang kitab yang diberikan ustad akhirnya akbar pun bangkit sambil mengusap sisa airmatanya ‘terimakasih ustad, saya akan ikut lomba" jawab akbar masih dengan nada terisak

"nah, gituu dong, itu baru namanya Akbar, Kabir, Besar hehee" olok nadir dan husni

"semoga kau akan menjadi besar sebesar namamu, berikanlah yang terbaik bagi bundamu yang selalu mendoakanmu di desa"pesan ustad terakhir sebelum mereka meninggalkan sungai.

1 jam kemudian….

"No urut 17 Silakan naik ke atas mimbar untuk membacakan matan tentang Ahkamul Islam, kepada no urut 17 dipersilakan waktu dan tempat" panggil MC melalui pengeras suara.

Hati akbar berdegup kencang saat no urutnya dipanggilkan oleh MC, dalam gundah gulana akhirnya dia mencoba untuk melangkah, dipandangi wajah ustad Ibrahim yang penuh harap atas keberhasilan anak didik kesayangannya, sambil mengacungi jempol ustad Ibrahim berteriak "semangat akbar, kamu pasti bisa" disana juga berdiri dua sahabat terbaiknya husni dan nadir yang penuh senyum memberikan semangat.

Akhirnya dengan lancar dan penjelasan yang luar biasa akbar membacakan isi dari kitab ‘Annatun Tholibin tentang Ahkamul Islam, dalam bacaannya terlihat air mata mengalir dari pipinya, air mata salah satu santri yang baru saja terkena musibah.

Dibalik ramainya penonton, rupanya tanpa terduga oleh siapapun sang bunda menyimak ananda kesayangannya sedang membacakan kitab dengan luar biasa bagus, penjelasan dari setiap uraian matan dan makna yang disampaikan pun membuat seluruh hadirin yang menyaksikan seperti sedang diajarkan agama oleh seorang Ulama Besar, tanpa disadari air mata sang bunda pun terurai, ya air mata penuh haru dan bahagia, air mata yang telah terbayar atas setiap pengorbanan dan penderitaan demi sang buah hati tercinta.

Akhir dari penjelasan kitab yang dibacakan oleh akbar pun tiba, tidak lupa dia mengucap sadaqallahul ‘adzim, ya kebenaran hanyalah dating dari Allah, dia merasa hanya hamba yang tidak luput dari silap dan kesalahan. Dan pembacaan kitab akbar pun diikuti gemuruh tepuk tangan yang luar biasa dari seluruh penonton yang hadir saat itu, bahkan sang bunda yang tidak tahan melihat pun harus berlari untuk merasakan pelukan hangat sang buah hati tercinta. Pelukan dari sang bunda yang selama ini berjuang keras menafkahi dan mendidik sang nanda sendirian pasca ditinggal oleh sang suami hingga menghasilkan sesuatu yang berharga yang tak akan pernah dilupakan semasa hidupnya. Sang bunda percaya bahwa penghargaan tak hanya dimiliki oleh mereka yang mampu, hari ini dia membuktikan anaknya yang serba kekurangan telah memberikan sesuatu yang lebih berharga lebih dari permata sekalipun. Sesuatu yang akan terkenang selama hidupnya.

"the end"

*Diambil dari kisah nyata penulis

Maulidin Akbar: sekarang bekerja di ASGAB kab. Pidie (anggota FAM INDONESIA) dan mahasiswa Aktif S1 UNIGHA

M. Husni: Mahasiswa di Kairo University

Ustad Muhammad: pegawai negeri sipil di Kantor Kemenag Simp. Mamplam Kab. Bireun (Guru Akbar)

 

 

 

Bagi anda yang mempunyai tulisan, artikel bisa dikirim ke email okifirdaus@unigha.ac.id tulisan anda akan kami seleksi terlebih dahulu sebelum di publikasikan di web ini

Share this :